Rabu, 10 Oktober 2012

Makalah peninggalan sejarah di lampung


MENHIR
menhir  adalah batu besar berdiri tegak. Menhirs dapat ditemukan secara tunggal sebagai monolit, atau sebagai bagian dari sekelompok batu yang sama. Ukuran mereka dapat bervariasi, tetapi bentuk mereka umumnya tidak merata dan kuadrat, seringkali meruncing ke atas. Menhirs tersebar luas di seluruh Eropa, Afrika dan Asia, tetapi yang paling banyak di Eropa Barat, khususnya di Irlandia, Britania Raya dan Brittany. Ada sekitar 50.000 megalit di daerah-daerah, sementara di barat laut Perancis saja terdapat 1.200 menhir. Mereka berasal dari periode yang berbeda di seluruh pra-sejarah, dan dibangun sebagai bagian dari budaya megalitik besar yang berkembang di Eropa dan seterusnya.
Fungsi menhir telah memicu perdebatan lebih dari masalah lainnya hampir semua dalam sejarah pra-Eropa. Selama berabad-abad mereka telah berbagai diduga telah digunakan oleh Druid untuk pengorbanan manusia, digunakan sebagai penanda wilayah atau unsur-unsur dari sebuah sistem ideologi yang kompleks, atau berfungsi sebagai kalender awal.  Sampai abad kesembilan belas, antiquarians tidak memiliki pengetahuan substansial prasejarah, dan poin-satunya referensi yang disediakan oleh literatur klasik. Perkembangan penanggalan radiokarbon dan pohon-cincin kalibrasi telah berbuat banyak untuk pengetahuan manusia lanjut di daerah ini.

Kata menhir diadopsi dari bahasa Perancis oleh arkeolog abad ke-19. Ini adalah kombinasi dari dua kata yang ditemukan dalam bahasa Breton, laki-laki dan hir. Dalam Welsh modern mereka digambarkan sebagai maen hir, atau "batu yang panjang".



PRASASTI HUJUNG LANGIT / BAWANG

Prasasti Hujung Langit, yang dikenal juga dengan nama Prasasti Bawang, adalah sebuah prasasti batu yang ditemukan di desa Haur Kuning lampung, Indonesia. Aksara yang digunakan di prasasti ini adalah Pallawa dengan bahasa Melayu Kuna. Tulisan pada prasasti ini sudah sangat aus, namun masih teridentifikasi angka tahunnya 919 Saka atau 997 Masehi. Isi prasasti di  perkirakan merupakan pemberian tanah sima.

 Penemu pertama kali di laporkan oleh petugas dinas topografi yang mengadakan pemetaan pada tahun 1912. Oleh tim epigrafi dunia purbakala, prasasti ini di sebut prasasti bawang karna letak penemuaannya di wilayah bawang. Prasasti ini di sebut hujung langit yang berdasarkan nama tempat yang di sebutkan alam prasasti tersebut.




PRASASTI PALAS PASEMAH

Prasasti PALAS PASEMAH ditemukan pada tahun 1957 di Palas Pasemah, daerah Kalianda, Lampung. Terdiri dari 13 baris, namun baris ke-1 sampai ke-3 hilang. Isi prasasti mula-mula dibahas oleh Prof. Dr. Buchari dalam artikel: Buchari, “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979.
Prasasti batu bertulis palas merupakan salah satu dari prasasti prasasti persumapahan sriwijaya. “prasasti-prasasti persumpahan”, yaitu prasasti-prasasti yang berisikan kutukan dan ancaman bagi mereka yang menentang atau tidak mau berbakti kepada raja Sriwijaya. Istilah “parsumpahan” memang berasal dari raja Sriwijaya sendiri, sebagaimana tercantum dalam prasasti-prasasti semacam itu. Prasasti Sriwijaya yang tergolong prasasti persumpahan adalah prasasti-prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah. Barangkali pada masa mendatang masih akan ditemukan prasasti persumpahan yang lain.

Isi prasasti Telaga Batu baris ketiga sampai kelima adalah sebagai berikut:


kamu wanyakmamu, rajaputra, prostara, bhupati, senapati, nayaka, pratyaya, hajipratyaya, dandanayaka, ....murddhaka, tuhaan watakwuruh, addhyaksi nijawarna, wasikarana, kumaramatya, ├žatabatha, adhikarana, karmma...., kayastha, sthapaka, puhawang, waniyaga, pratisara, kamu marsi haji, hulun haji, wanyakmamu urang, niwunuh sumpah dari mangmang kamu kadaci tida bhakti di aku.

“Kamu semua: putra raja, menteri, bupati, panglima, pembesar, pegawai, pegawai istana, hakim, ....murddhaka, ketua buruh, pengawas rakyat jelata, ahli senjata, pengurus pemuda, olahragawan, petugas bangunan, karmma..., jurutulis, arsitek, nakhoda, pedagang, kepala pasukan, kamu pelayan istana, penghuni istana, semua orang, dibunuh sumpah dari mantra kamu manakala tidak berbakti kepadaku.”

PRASASTI BATU BEDIL

Prasasti yang dibuat pada era kerajaan Sriwijaya ini menjadi bukti sejarah adanya penduduk di wilayah ini pada masa lalu yang berhubungan dengan kerajaan tersebut. Di lokasi ini terdapat 3 kompleks terpisah yang berdekatan

Meskipun telah didiami oleh manusia sejak 2.500 sebelum masehi, Desa Batu Bedil yang berada di kecamatan pulau panggung kabupaten tanggamus masih juga tetap susah untuk di jangkau oleh manusia karena akses jalan menuju tempat yangbanyak terdapat situs purbakala ini masih sangat memprihatinkan, meskipun jalan sudah pernah di aspal namun saat ini selain jalan nya kecil juga penuh dengan lubang seperti kubangan kerbau.
Desa ini dinamakan desa batu bedil karena pada zaman dahulu dari cerita warga yang turun temurun ada sebuah batu yang pada malam hari selalu memancarkan api dengan suara letusan yang berasal dari sebuah batu besar yang berada di desa batu bedil batu bedil mempunyai arti batu yang bisa menembak.

Situs purbakala batu bedil terletak diatas dataran tinggi sekitar 320 meter diatas permukaan laut selain di kelilingin sunagai situs ini diapit terdapat juga lereng-lereng yang curam denganj kemiringan 60 hingga 40 derajat yang termasuk di dataran tinggi bukit barisan gunung tanggamus di sebelah selatan dan gunung rindingan di sebelahutara didesa ini banyak terdapat perkebunan kopi dengan keindahan alam yang sangat menakjubkan, lokasi situs ini dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda empat melalui lereng-lereng yang curam dengan kindahan alam yang sangat menakjubkan dengan waktu kurang lebih satu jam dari kota bandar lampung.

Menurut kepala desa Batu Bedil, Sahdin Almahata Pada tahun 1954 arkeologi pernah melakukan survey di situs purbakala batu bedil dengan berbagai alasan tidak di dapatkan sesuatu yang kongrit, Pada tahun 1989 di bentuk tim gabungan dari daerah lampung dan pusat. Lalu disimpulkan desa batu bedil telah di huni oleh manusia sejak 2.500 sebelum masehi, kehidupan pada saat ituberpegang teguh padapercayaan terhadap kekuatan alam dan kehidupan sesudah kematian sebagai nilai-nilai kehidupan relegi yang menonjol.

Keterikatan batin antara manusia yang hidup dan mati diwujudkandalam pemujaan terhadap roh nenek moyang dibuatlah sarana atau bangunan-bangunan dari batu yang sering disebut dengan bangunan megalitik, kebudayaan megalitik dan tradisi di situs batu bedil ini sudah sangat lama tradisi adalah sesuatu yang hidup dalam kebudayaan kehidupan sosial sekitar abad ke-10 masehi kebudayaan hindu dan budha berbaur dengan kebudayaan sebelumnya dengan ditemukan prasasti batu bedil dan berbagai tempat pemujaan-pemujaan.




1 komentar: